The Critique of Pure Reason by Immanuel Kant (Kelas Filsafat Ilmu - Prof. Dr. Marsigit, MA)

 


The Critique of Pure Reason by Immanuel Kant

Kritik atas Nalar Murni oleh Immanuel Kant
Evangelia Tuko


 

Buku The Critique of Pure Reason yang ditulis oleh Immanuel Kant berisi tentang filsafat transcendental. Filsafat transcendental ini meneliti syarat – syarat apriori kemungkinan pengetahuan. Kant memberi catatan kepada para pembacanya agar tidak salah paham. Pada buku ini, makna transcend dan transcendental itu berbeda. Secara umum, orang mengetahui transcend yang artinya melampaui indrawi manusia. Tuhan adalah transcend karena tidak indrawi. Kant menggunakan istilah transcendental yang berarti syarat – syarat yang memungkinkan pengetahuan indrawi dari struktur apriori pemikiran manusia itu sendiri. Pertanyaan mengenai transcendental yaitu berupa syarat – syarat yang memungkinkan pengetahuan mengenai objek – objek indrawi.

Hal ini jelas berbeda dengan pertanyaan yang muncul secara epistemologis. Epistemologis (teori pengetahuan) memunculkan pertanyaan berupa bagaimana pengetahuan itu terjadi; misalnya sebuah objek empiris yang diberi persepsi. Berbicara transcendental berbicara tentang pertanyaan karena sudah dianggap adanya pengetahuan. Konsep transcendental adalah bagaimana pengetahuan itu mungkin. Konsep epistemologis adalah bagaimana pengetahuan itu terjadi. Segala kemungkinan dan syarat – syarat ilmu pengetahuan masuk dalam proyek pertanyaan transcendental.

Konsep transcendental inilah yang diteliti oleh Kant dalam bukunya The Critique of Pure Reason. Kant berbicara bagaimana pengetahuan itu mungkin, yang dirinya teliti adalah struktur dalam pemikiran manusia yang memungkinkan terjadinya pengetahuan. Cara Kant meneliti konsep ini, dirinya seperti memecah – mecahkan sebuah pengetahuan untuk melihat apa yang terdapat dalam pengetahuan ini. Kemudian ia melihat bahwa pengetahuan hanya mungkin jika ada objek indrawi yang diberi kepada manusia, sebagai contoh bunga yang dilihat manusia. Apa yang diperlihatkan oleh bunga pemberiannya bagi indra manusia dalam bentuk ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah apriori manusia, yang memang berasal dari pemikiran manusia. Pengkategorian tersebut sudah ada dalam pemikiran manusia. Objek yang empiris terberi kepada manusia itu sendiri secara spontan belum termasuk dalam pengalaman baru. Hanya sebatas menjadi kesan awal indrawi dan harus diproses lagi oleh pikiran manusia.

Menurut Kant, ada 12 kategori transcendental yang menjadi syarat – syarat yang memungkinkan pengetahuan. Ke 12 kategori ini yang kemudian memproses data – data awal indrawi. Ke 12 kategori ini harus diterima sebagai ada jika ingin menjelaskan kemungkinan adanya pengetahuan. Pemikiran Kant ini tidak terbantahkan karena logis dan rasional. Pengetahuan transcendental Kant harus diterima sebagai ada, jika ingin menjelaskan mengenai kemungkinan sebuah pengetahuan.

Sumber : Kant, Immanuel. 2013. The Critique of Pure Reason (translate). An Electronic Classics Series Publication : Pennsylvania State University

Komentar

  1. Immanuel Kant sebagai salah satu tokoh filsafat modern telah berhasil menciptakan sistem pengetahuan yang lebih universal dan lebih positif. Sumbangannya pada ilmu logika tidak hanya meruntuhkan sistem filsafat tradisional yang hanya melihat fenomena dari aspek empiris atau rasional, melainkan adanya pendekatan akal budi untuk menilai hal yang lebih utama, yaitu hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Munculnya Kant sebagai salah satu gelombang filsuf modern jerman bersama dengan Hegel, Fichte dan Schelling membuka jendela baru dalam keilmuan filsafat, serta menjadi pijakan baru bagi generasi filsuf selanjutnya pada masa pasca modernitas. Konsep kebenaran transendental mengisyaratkan bahwa pengetahuan harus berangkat dari identitas obyek pengetahuan yang membangun suatu intuisi umum. Idealisme transendental tanpa kita sadari telah kita anut selama kita mengenyam pendidikan dasar dan pendidikan menengah, bahwa pengetahuan haruslah dipelajari satu-demi-satu untuk kemudian di analisis menghubungkan satu obyek dengan obyek lain, sehingga satu kesatuan fenomena dapat diterima oleh semua kalangan.

    BalasHapus
  2. Terimakasih. Menambah pengetahuan ๐Ÿ‘

    BalasHapus
  3. Filsafat ilmu yg menarik buat dipelajari ,mantap informasinya..

    BalasHapus
  4. Terimakasihvkak...penjelasannya mengalir dan sederhana.

    BalasHapus
  5. Terimakasih menambah pengetahuan sy

    BalasHapus
  6. Filsafat ilmu yang Keren banget

    BalasHapus
  7. Kritik atas pemikiran Kant apa ni kak? Mungkin bisa dijelasin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih tepatnya merangkum sedikit bacaan atas buku yang dituliskan Kant dengan judul The Critique of Pure Reason kak. itu yang saya tulis kan hehe

      Hapus

  8. Pada buku tersebut juga menjelaskan bahwa Kant memiliki pendapat ada sebuah putusan yang mengandalkan satu forma kosong intelek disebut dengan putusan perasaan yaitu reflecting judgement yang berasal dari kekuatan afektif kehendak subjek. Menurut Kant, keputusan semacam ini adalah keputusan yang tidak akan memberikan putusan yang tepat melainkan hanya memanifestasikan kemendesakkan.

    BalasHapus
  9. Simple dan ringan pembahasannya, mudah dimengerti

    BalasHapus
  10. singkat padat dan jelas. terimakasih ilmu barunya..

    BalasHapus
  11. Thankyou sangat bermanfaat nih

    BalasHapus
  12. Nice...jadi pengen baca bukunya...

    BalasHapus
  13. Sungguh pemikiran yg mendalam dari Kant.. Pengetahuan transcendental Kant yang bisa dijelaskan secara logis dan rasional. Menarik

    BalasHapus
  14. Semangat untuk tetap menulis dan berbagi informasi mbak

    BalasHapus

Posting Komentar