- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
The Critique of Pure Reason by Immanuel Kant
Kritik atas
Nalar Murni oleh Immanuel Kant
Evangelia Tuko
Buku
The Critique of Pure Reason yang
ditulis oleh Immanuel Kant berisi tentang filsafat transcendental. Filsafat transcendental
ini meneliti syarat – syarat apriori kemungkinan pengetahuan. Kant memberi
catatan kepada para pembacanya agar tidak salah paham. Pada buku ini, makna transcend dan transcendental itu berbeda. Secara umum, orang mengetahui transcend yang artinya melampaui indrawi
manusia. Tuhan adalah transcend
karena tidak indrawi. Kant menggunakan istilah transcendental yang berarti syarat – syarat yang memungkinkan
pengetahuan indrawi dari struktur apriori pemikiran manusia itu sendiri.
Pertanyaan mengenai transcendental
yaitu berupa syarat – syarat yang memungkinkan pengetahuan mengenai objek –
objek indrawi.
Hal
ini jelas berbeda dengan pertanyaan yang muncul secara epistemologis.
Epistemologis (teori pengetahuan) memunculkan pertanyaan berupa bagaimana
pengetahuan itu terjadi; misalnya sebuah objek empiris yang diberi persepsi.
Berbicara transcendental berbicara
tentang pertanyaan karena sudah dianggap adanya pengetahuan. Konsep transcendental adalah bagaimana
pengetahuan itu mungkin. Konsep epistemologis adalah bagaimana pengetahuan itu
terjadi. Segala kemungkinan dan syarat – syarat ilmu pengetahuan masuk dalam
proyek pertanyaan transcendental.
Konsep
transcendental inilah yang diteliti
oleh Kant dalam bukunya The Critique of
Pure Reason. Kant berbicara bagaimana pengetahuan itu mungkin, yang dirinya
teliti adalah struktur dalam pemikiran manusia yang memungkinkan terjadinya
pengetahuan. Cara Kant meneliti konsep ini, dirinya seperti memecah – mecahkan
sebuah pengetahuan untuk melihat apa yang terdapat dalam pengetahuan ini.
Kemudian ia melihat bahwa pengetahuan hanya mungkin jika ada objek indrawi yang
diberi kepada manusia, sebagai contoh bunga yang dilihat manusia. Apa yang
diperlihatkan oleh bunga pemberiannya bagi indra manusia dalam bentuk ruang dan
waktu. Ruang dan waktu adalah apriori manusia, yang memang berasal dari
pemikiran manusia. Pengkategorian tersebut sudah ada dalam pemikiran manusia.
Objek yang empiris terberi kepada manusia itu sendiri secara spontan belum
termasuk dalam pengalaman baru. Hanya sebatas menjadi kesan awal indrawi dan
harus diproses lagi oleh pikiran manusia.
Menurut
Kant, ada 12 kategori transcendental
yang menjadi syarat – syarat yang memungkinkan pengetahuan. Ke 12 kategori ini
yang kemudian memproses data – data awal indrawi. Ke 12 kategori ini harus
diterima sebagai ada jika ingin menjelaskan kemungkinan adanya pengetahuan.
Pemikiran Kant ini tidak terbantahkan karena logis dan rasional. Pengetahuan transcendental Kant harus diterima
sebagai ada, jika ingin menjelaskan mengenai kemungkinan sebuah pengetahuan.
Sumber
: Kant, Immanuel. 2013. The Critique of
Pure Reason (translate). An Electronic Classics Series Publication :
Pennsylvania State University
Komentar

Immanuel Kant sebagai salah satu tokoh filsafat modern telah berhasil menciptakan sistem pengetahuan yang lebih universal dan lebih positif. Sumbangannya pada ilmu logika tidak hanya meruntuhkan sistem filsafat tradisional yang hanya melihat fenomena dari aspek empiris atau rasional, melainkan adanya pendekatan akal budi untuk menilai hal yang lebih utama, yaitu hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Munculnya Kant sebagai salah satu gelombang filsuf modern jerman bersama dengan Hegel, Fichte dan Schelling membuka jendela baru dalam keilmuan filsafat, serta menjadi pijakan baru bagi generasi filsuf selanjutnya pada masa pasca modernitas. Konsep kebenaran transendental mengisyaratkan bahwa pengetahuan harus berangkat dari identitas obyek pengetahuan yang membangun suatu intuisi umum. Idealisme transendental tanpa kita sadari telah kita anut selama kita mengenyam pendidikan dasar dan pendidikan menengah, bahwa pengetahuan haruslah dipelajari satu-demi-satu untuk kemudian di analisis menghubungkan satu obyek dengan obyek lain, sehingga satu kesatuan fenomena dapat diterima oleh semua kalangan.
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusNice
BalasHapusBagus....
BalasHapusnice ๐
BalasHapusTerimakasih. Menambah pengetahuan ๐
BalasHapusFilsafat ilmu yg menarik buat dipelajari ,mantap informasinya..
BalasHapusTerimakasihvkak...penjelasannya mengalir dan sederhana.
BalasHapusTerimakasih menambah pengetahuan sy
BalasHapusFilsafat ilmu yang Keren banget
BalasHapusKritik atas pemikiran Kant apa ni kak? Mungkin bisa dijelasin.
BalasHapuslebih tepatnya merangkum sedikit bacaan atas buku yang dituliskan Kant dengan judul The Critique of Pure Reason kak. itu yang saya tulis kan hehe
Hapus
BalasHapusPada buku tersebut juga menjelaskan bahwa Kant memiliki pendapat ada sebuah putusan yang mengandalkan satu forma kosong intelek disebut dengan putusan perasaan yaitu reflecting judgement yang berasal dari kekuatan afektif kehendak subjek. Menurut Kant, keputusan semacam ini adalah keputusan yang tidak akan memberikan putusan yang tepat melainkan hanya memanifestasikan kemendesakkan.
Alhirnya aku paham juga
BalasHapusNiceee๐
BalasHapusSimple dan ringan pembahasannya, mudah dimengerti
BalasHapussingkat padat dan jelas. terimakasih ilmu barunya..
BalasHapusTerimakasih ilmunya...
BalasHapusMantap pembahasan nya
BalasHapusKeren
BalasHapusMantappp
BalasHapusThankyou sangat bermanfaat nih
BalasHapusNice...jadi pengen baca bukunya...
BalasHapusSungguh pemikiran yg mendalam dari Kant.. Pengetahuan transcendental Kant yang bisa dijelaskan secara logis dan rasional. Menarik
BalasHapusMantap kak eva
BalasHapusSemangat untuk tetap menulis dan berbagi informasi mbak
BalasHapusMantap aja
BalasHapus