Nglurug Tanpa Bala Menang Tanpa Ngasorake (Kelas Filsafat Ilmu - Prof. Dr. Marsigit, MA)

 

Nglurug Tanpa Bala – Menang Tanpa Ngasorake

Evangelia Tuko



Tulisan dengan judul Nglurug Tanpa Bala – Menang Tanpa Ngasorake saya temukan pada saran Facebook dari Prof. Marsigit. Tulisan ini diposting pada tanggal 9 Agustus 2020 jam 12.00 WIB oleh akun Facebook dengan nama Marsigit Hrd. Saya tertarik membaca dan membuat laporan mengenai tulisan ini karena memuat bahasa jawa yang sangat jarang saya dengar dan ketahui, sebab saya bukan orang asli daerah jawa. Maka dari itulah, saya tertarik sekali ingin mengetahuinya lebih seksama.

Pada postingan tersebut memberikan artian mengenai makna Nglurug Tanpa Bala – Menang Tanpa Ngasorake dari good practice yang biasa diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Tulisan ini dituliskan dengan model percakapan batiniah tokoh Palon dan Sabda yang seperti saya ketahui sedikit, beliau adalah tokoh legendaris pandita pada jaman Kerajaan Majapahit. Berdasarkan hasil membaca tulisan tersebut saya dapat menjabarkan bahwa Sabda memberikan penjelasan yang sangat menarik dan sangat baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari – hari.

Menurut Sabda, Nglurug Tanpa Bala – Menang Tanpa Ngasorake adalah makna konteks Jawa yang dibalut oleh spritualisme. Jika diterjemahkan kedalam bahasa asing akan sulit diperoleh makna aslinya. Kalimat tersebut dapat dilihat dari sudut good practice yang telah ditunjukkan oleh para orang tua jaman dahulu maupun yang sampai saat ini masih digunakan. Sabda membuat definisi asumsi tentang Nglurug Tanpa Bala – Menang Tanpa Ngasorake menjadi sebagai berikut : 1) Bahwa semua pemimpin adalah hebat, mereka mempunyai kelebihan dibanding yang lain; 2) Nglurug tanpa Bala memiliki makna menyerang sendirian tanpa bantuan bala tentara / prajurit; 3) Menang tanpa Ngasorake memiliki makna yaitu menang tanpa mengalahkan orang tersebut. Bagi Sabda, hal ini berlaku untuk semua orang bukan hanya bagi seorang pemimpin.

Selain makna secara satu kesatuan kalimat, Sabda juga menjelaskan makna secara kata per kata dari Nglurug, Musuh, Menang dan Bala. Menurut Sabda, Nglurung adalah ikhtiar. Tanpa Bala adalah tidak menggunakan kekuatan fisik badan, yang diartikan adalah kekuatan doa. Makna Menang adalah memperoleh hidayah dari Tuhan. Makna Tanpa Ngasorake adalah memperoleh kebaikan untuk diri sendiri maupun orang lain.

Saya kemudian menarik kesimpulan lebih dalam sebagai bahan permenungan refleksi diri, bahwa kalimat bahasa jawa ini bukan hanya tulisan menarik semata tetapi mengandung makna spritual yang sangat tinggi. Bagi saya kalimat ini pula bukan hanya dapat digunakan untuk persoalan diri dengan orang lain, tetapi persoalan tentang diri sendiri juga. Musuh yang harus dikalahkan bukan hanya yang dapat terlihat sebagai wujud manusia, tetapi juga musuh pada diri sendiri yatu sikap negatif yang tertanam pada diri manusia itu sendiri. Jadi sebelum mencoba mengalahkan orang lain dengan yang di luar dirimu dengan makna kalimat tersebut, cobalah Nglurug Tanpa Bala – Menang Tanpa Ngasorake musuh yang ada di dalam diri sendiri. Itulah teladan yang diberikan orang tua, leluhur, para pemimpin dari jaman ke jaman.

Sumber : Facebook Marsigit Hrd, link https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10220935851857949&id=1590347591

Komentar

  1. Semua kembalu seperti pemahaman dan penghormatan terhadap sesama itu sangatlah mulia

    BalasHapus
  2. pada tulisan: point 3) menang tanpa Ngasorake memiliki makna yaitu menang tanpa mengalahkan orang tersebut.

    mungkin artinya lebih mengarah pada "menang tanpa merendahkan"

    Kalau diaplikasikan dalam kehidupan mungkin mirip² dengan ungkapan diam-diam menghanyutkan

    BalasHapus
  3. Terimakasih, sangat bermanfaat sekali πŸ™

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat... sangat informatif...

    BalasHapus
  5. Ilmu baru, terima kasih tulisannya πŸ‘

    BalasHapus
  6. Perbanyak artikel yang seperti ini, lanjutkan

    BalasHapus
  7. Terimakasih refleksinya nggih...mendalami pepatah jawa selalu membawa diri kepada kebijaksanaan untuk bersikap baik dlm hidup. Menegenali diri adlh pintu utama untuk mengenali orang lain bahkan 'menaklukkannya'.

    BalasHapus
  8. Mantap kak. Ditunggu tulisan selanjutnya

    BalasHapus
  9. Tulisan yang bagus dan membangun

    BalasHapus
  10. Ggagasan kkreatif dan inspiratif

    BalasHapus
  11. Menarik pembahasan nya ,ini sesuatu hal yg baru bagi saya terimakasih ilmunya :)

    BalasHapus
  12. Bisa kembali menyegarkan ingatan saya tentang bahasa jawa, terimakasih

    BalasHapus
  13. Sangat bermanfaat, terima kasihπŸ‘

    BalasHapus
  14. Kita memang pantas disebut negara kaya. Selain sumber daya alam, kita juga kaya akan kebijaksanaan hidup yg termuat di dalam hidup masing2 suku di Indonesia. Kebijaksanaan lokal seperti peribahasa/pepatah menjadi kekayaan yg harus digali dan dipelihara.

    BalasHapus
  15. Setiap kata memiliki makna, setiap tradisi memiliki isi.

    BalasHapus
  16. Keren kak, peribahasa zaman dahulu yang masih relate sampai keadaan sekarang

    BalasHapus
  17. Menurut yang saya pelajari, sabdo palon itu 1. Tidak dapat dipisah. Sapdo palon itu dikenalkan kepada kita sebagai Ki Semar Bodronoyo . sapdo paling selalu di sandingkan dengan Naya Genggong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi setiap menyebut sapdo harus di ikuti kata palon. Tidak dpat dipisahkan sendiri².

      Hapus
    2. terima kasih kak masukannya. akan saya perbaiki untuk bahannya. sehat selalu kakak

      Hapus
  18. Wah saya malah baru dengar pepatah ini

    BalasHapus
  19. Sangat menginspirasi kita semua.

    BalasHapus

  20. Dari setiap pesan, atau petuah yang ada dalam bahasa jawa memiliki berbagai makna karena disampaikan secara tersirat. Setiap orang yang mendengarkan bahkan di saat yang sama memiliki serapan berbeda. Tetapi makna akan tetap berarti dan pesan tetap tersampaikan tanpa harus menyampaikan maksud dari petuah tersebut karena ibarat satu petuah memiliki seribu makna.

    BalasHapus
  21. Ini udh jadi filosofi hidup saya kak, sikap gantle bgt

    BalasHapus
  22. Terima kasih telah berbagi ilmu pengetahuan, sangat bermanfaatπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  23. Mantap, semangat terus dalam berkarya πŸ’ͺ

    BalasHapus
  24. Bagus, bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari

    BalasHapus
  25. Sangat menarik dan tentunya menambah wawasan

    BalasHapus
  26. Keren...bahasa jawa memang bukan cuma kata2 yang menarik,, tetapi sedikit ada makna spiritualnya...semangat kak eva

    BalasHapus
  27. Nilai-nilai Jawa yg apik.orang Jawa jangan sampai hilang jawanya

    BalasHapus
  28. Keren.. Menjadi tau lebih dalam mengenai makna peribahasa nglurug tanpa bala – menang tanpa ngasorake. Biasanya hanya membaca dari buku pepak basa saja dengan penjelasan satu kalimat. Terimakasih kak sudah membuka wawasan kami.. .

    BalasHapus
  29. Tulisan yang luar biasa, perlu dikembangkan agar lebih banyak orang yang tau

    BalasHapus
  30. Terimakasih sngat membantu utk saya juga dalam mempelajari bhsa jawa

    BalasHapus
  31. Kalimat yang terkadang hanya didengar tanpa dicari makna yang sesungguhnya secara mendalam.
    Terimakasih tulisannya bagus πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  32. Ilmu yang sangat bermanfaat, terimakasih kak πŸ’

    BalasHapus
  33. Sangat bermanfaat πŸ™πŸ™

    BalasHapus
  34. Mandapat informasi baru yang menarik dari postingan ini,terima kasih penulis ♥

    BalasHapus
  35. Bagus jdi bisa memahami nilai ilmu disaat utk diri sendiri dan utk lebih mempelajari jiwa dan karakter org lain

    BalasHapus
  36. Bagus jdi bisa memahami nilai ilmu disaat utk diri sendiri dan utk lebih mempelajari jiwa dan karakter org lain

    BalasHapus
  37. Wah keren...nambah ilmu baru tentang pepatah jawa

    BalasHapus
  38. Sangat inspiratif. Karena mengenal diri sendiri secara mendalam lebih bijaksana.

    BalasHapus
  39. Sangat menginspirasi kak, tetap semangat dan jaga kesehatan kak

    BalasHapus
  40. Dari artikel tersebut kita bisa mengetahui bahwa spiritual itu penting, terlebih untuk pengendalian diri. Mantap

    BalasHapus
  41. Sudah lama tidak komen di blogspot. Semangat kak eva, salam sayang dari Yogyakarta.

    BalasHapus
  42. Apakah "menang tanpo ngasorake" bisa diartikan: menang tanpa merendahkan? :)

    BalasHapus
  43. Dalam dunia politik, falsafah Jawa ini banyak diterapkan oleh pemimpin-pemimpin di Indonesia.

    BalasHapus

Posting Komentar